“Merasa santai dan nyaman bisa bikin kita lengah. Waspadalah…” –Rendy Maulana

Rendy-Maulana-Akbar-2

Muda dan sukses. Image itulah yang lekat pada sosok yang satu ini. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, dia berhasil memimpin perusahaan yang sudah dirintis sejak tahun 2005, yaitu Qwords. Perusahaan ini menjadi salah satu perusahaan web hosting top di Indonesia, bahkan di tahun 2012, salah satu kantor cabangnya akan dibuka di Singapura. Sebuah perjalanan panjang dari seorang Rendy Maulana Akbar.

Awal Mula

Berdagang bukanlah hal yang baru digeluti oleh Rendy. Jika ditelusuri, bidang ini nyatanya bahkan sudah dimulainya saat masih TK. Berjualan kosmetik hasil arahan sang mama, berlanjut penyewaan komik saat SD, sampai berjualan kerajinan tangan di SMP. Semuanya dijalani sambil bersekolah di Cilegon, setelah dia hijrah dari kota kelahirannya, yaitu Jakarta.

Menginjak SMA, Rendy pun pindah ke Bandung seorang diri. Sambil menjalankan hobinya di bidang teknologi, bermodalkan utang ke toko, dia mulai berjualan komputer rakitan. “Hasilnya lumayan banget lah saat itu. Sempet bisa beli macem-macem. Coba-coba jual lagi pas kuliah, terus lanjut deh usaha yang sekarang”, paparnya saat ditemui di sebuah kesempatan.

Tidak begitu saja ide bisnis ini sebenarnya muncul. Awalnya dia justru tertarik dengan fenomena yang tengah terjadi pada saat awal kuliah, di mana banyak orang yang tergila-gila dengan merek. Bukan artinya ingin membeli barang bermerek, tapi justru membuat merk dagang sendiri. Hal ini bahkan dilakukan oleh orang-orang yang tidak bermodal sangat besar, contohnya pengusaha flashdisk. Dengan membeli batangan flashdisk kosong, kemudian disablon dan dikemas, ternyata sudah bisa menjadi produk bermerek pribadi. Rendy pun akhirnya tertarik dan mengajak temannya untuk menjalankan usaha yang serupa tapi tak sama. Tapi karena hingga tiga bulan berselang mereka sama-sama vakum, maka rencana itu urung dieksekusi.

Di sisi lain, tanggung jawabnya sebagai salah satu mahasiswa jurusan manajemen SBM-ITB tetap harus dipenuhi. Sungguh suatu kebetulan saat itu tugas-tugas tentang IT pun sedang menumpuk, yang berujung pada pembuatan beberapa website. Prosesnya belum semudah sekarang, masih menggunakan notepad dan sedikit coding, yang dibuat semenarik mungkin pada zaman itu. Namun setelah website tersebut jadi, ternyata bermunculan permintaan dari teman-teman untuk menggarap lebih banyak. Domain yang dimiliki terus bertambah, sampai akhirnya di tahun 2005, Rendy memutuskan untuk menjualnya secara komersil.

Bandung – Jakarta – Singapura
Rendy Maulana Akbar 2

Tepatnya pada tanggal 24 Agustus 2005, perusahaan ini terlahir. Semua masih dikerjakan secara mandiri oleh Rendy di sekitar ITB dan kost-nya. Produk dan layanan yang ditawarkan sangat beragam, atau malah bisa dibilang masih bisnis Palu Gada (Apa Lu Mau Gua Ada). Hingga akhirnya di tahun 2007, setelah mengontrak kantor dan memiliki dua pegawai karena sudah tidak sanggup menangani sendirian, usahanya mulai fokus di pembuatan website dan hosting saja.

Kesibukannya pun semakin bertambah setelah mendapat proyek dari kementerian. Dia harus selalu bolak-balik Bandung-Jakarta. Namun justru ini dimanfaatkan Rendy untuk melihat-lihat dan mencari peluang. Hasilnya, di tahun 2009, Qwords membuka cabang di Jakarta, di sebuah kios sewaan berukuran 3×4 meter. Berkat seringnya mengikuti pameran, penjualan meningkat dan server di Jakarta semakin banyak. Maka pada tahun 2010, kantornya pindah ke gedung perkantoran yang lebih besar. Fokus usahanya kembali mengerucut, hanya menjual hosting. Sedangkan web development-nya diserahkan kepada masing-masing pelanggan, apakah bisa membuat sendiri atau menyewa jasa web developer.

“Yah, bagi-bagi rejeki lah. Karena kalo dimakan sendiri, rejekinya gak akan bagus. Jadi kalo ada orang yang bisa hidup dari usaha kita, kenapa nggak?” ujarnya.

Walaupun margin dari hosting diakuinya jauh lebih kecil daripada penjualan website, namun pertemanan yang didapat dianggapnya lebih berharga.

Kesempatan kemudian terus berdatangan. Seperti jalan yang tiba-tiba terbuka, kemungkinan untuk ekspansi pun menyapa dalam kondisi yang cukup kondusif. Di tahun 2012, pemuda yang doyan menyantap sate dan mendengarkan musik jazz ini akhirnya mendaftar sebagai perusahaan legal di negara tetangga, Singapura. Tujuannya sederhana, yaitu ingin menunjukan bahwa Indonesia juga bisa bersaing di iklim perdagangan bebas ini, dan bukan hanya menjadi negara tempat masuknya perusahaan-perusahaan asing.

Jatuh Bangun
Rendy Maulana Akbar 3

“Berdagang artinya harus siap menerima tantangan setiap hari, karena setiap saat segala sesuatu bisa berubah”

Kalimat di atas sangat menggambarkan apa yang terjadi selama Qwords bertahan bertahun-tahun lamanya. Bisa dibilang, tanggap atas segala perubahan menjadi salah satu kunci utama mengapa bisnis ini masih bisa berkelanjutan. Perubahan yang dimaksud adalah termasuk peristiwa-peristiwa yang berada di luar ekspektasi. Rendy mencontohkan, seperti pada saat Thailand mendadak banjir. Tidak ada yang tahu kapan surutnya, sedangkan harga-harga pun menjadi naik, supply change berganti, sehingga banyak hal yang akhirnya harus diotak-atik dan diatasi secepat mungkin.

Itu semua berhasil dilewati berkat motivasi kuat yang terus dijaga, yaitu bahwa dia tidak boleh mundur, karena bisnisnya menopang bisnis orang lain. Dengan tujuan membantu orang, kinerja pun akhirnya tidak boleh sembarangan, apalagi setengah-setengah. Performa yang baik akan memberi dampak yang baik pula pada para pelanggan, begitupun sebaliknya. Dan jika mereka puas, maka masa langganan akan lebih panjang, atau bahkan penambahan dalam kapasitas dan kuantitas.

Namun perjalanan ini bukan berarti mulus tanpa rintangan. Di bulan Juni, saat sudah punya 15 karyawan dan kantor di Jakarta, akibat salah perhitungan, yaitu partner yang kurang baik dan salah rekrut pegawai, perusahaan ini hampir saja tinggal nama dan akhirnya diremehkan orang. Beruntung, segala gejolak itu justru bisa terkonversi menjadi energi positif. Mengatur ulang strategi serta melakukan perbaikan internal dan penghematan, semua demi menyelamatkan nama baik perusahaan serta para pelanggan dan karyawan yang setia. Beberapa bulan setelahnya, yaitu September, Qwords tidak hanya semakin stabil, tapi bahkan berhasil membangun data center-nya sendiri. Sungguh suatu usaha keras yang dibangun dengan kesabaran.

Kompetisi pun termasuk hal yang tidak bisa dihindari. Zaman semakin canggih, kompetitor semakin banyak. Namun menurut Rendy, tetap saja ada beberapa proses yang orang-orang tidak ketahui dan hal-hal yang mungkin tidak dimiliki, sehingga kualitas produk yang dia hasilkan bisa jadi lebih bagus. Sedangkan jika orang lain ingin mendapat hasil yang sama, pasti memakan biaya yang sangat besar.

Kelebihan-kelebihan yang dihasilkan, di antaranya akses website yang cepat dari seluruh dunia, replacing system yang cepat karena punya data center sendiri, cooling system-nya, dan lain-lain. Semuanya didesain sendiri oleh tim riset, sehingga bisa hemat energi dan ramah lingkungan, namun tetap berperforma tinggi. Quality control juga benar-benar dijaga sehingga kemungkinan downtime-nya sangat kecil. Cinta lingkungan ini lantas disebarluaskan melalui kampanye Qwords, yaitu “Save Earth”.

Masalah Bisnis Anak Muda
Rendy Maulana Akbar 4

Sebagai anak muda, akselerasi bisnis Rendy bisa dibilang cukup cepat. Hal ini diamini dengan syukur oleh sulung dari tiga bersaudara ini. Padahal menurutnya, di awal-awal mulai berdagang, keluarganya tidak terlalu mendukung, karena mereka lebih menekankan untuk serius sekolah dan kuliah saja. Namun karena ia memang menaruh minat pada dagang, maka ia selalu mencuri-curi kesempatan. “Waktu orang lain tidur, kita kerja. Orang lain kerja, kita tidur, kadang masih kerja. Waktu orang lain sibuk kuliah, kita ngurus jualan. Jadi bisa dibilang curi start lah,” kenangnya.

Banyak yang berpendapat penyakit anak muda itu biasanya mudah bosan dan tidak fokus. Menurut Rendy, hal itu pasti bisa diatasi. Caranya adalah jangan pernah cepat puas dan selalu berpikir tentang membuat inovasi. Masa-masa bosan itu memang selalu ada, biasanya di tahun-tahun awal. Bahkan setiap tahun pun ada bulan-bulan yang rasanya penat dengan segala urusan pekerjaan. Pada saat seperti itu, sangat dianjurkan untuk berlibur dan rehat sejenak, atau menstimulus ide dengan membaca buku-buku.
Rendy Maulana Akbar 5

“Memang biasanya kalau masih muda itu labil dan gak fokus. Tapi kalau dia punya tanggung jawab, gak bakalan kok. Pasti akan tetap fokus aja”, menurutnya.

Selain etos kerja, kisah Rendy Maulana di atas juga menggambarkan bahwa sebuah hobi, jika dijalani dan dibuat lebih fokus dan serius, ternyata memang bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Kini, pria yang selalu tertarik dengan ilmu Feng Shui ini masih menikmati menjalankan sistem yang sudah dibangunnya. Sambil mengurus kantor dan karyawan, dengan gaya khasnya yang kasual, Rendy pun tak segan berbagi ilmu dengan menjadi mentor bisnis di MBA-ITB, serta pembicara di berbagai kegiatan. Yang teranyar adalah mewakili Indonesia untuk membahas mengenai isu pengangguran pada tingkat usia produktif di forum ILO PBB di Jenewa, Swiss.

Keluarga pun akhirnya semakin suportif dan tidak henti-hentinya mengingatkan, agar bisa selalu jujur, tahan banting, tidak gegabah, selalu hati-hati, berlapang dada, dan sabar jika menghadapi masalah. Serta tak lupa sedekah jika mendapatkan rejeki.

Sumber: Indonesia KreatifShare on Facebook