Call Center: 0804-1-808-888 / Outside Indonesia: +622152905148

Liputan6.com, Belanda – Dalam pameran Information Technology (IT) yang diusung perusahaan-perusahaan Indonesia di Belanda, publik teknologi Negeri Kincir Angin terhenyak dan berhasil meraup proyek dengan nilai total jutaan dolar.

Kemampuan IT bangsa yang pernah dijajahnya selama 350 tahun, ternyata mampu melesat dan menjadi magnet di pusat inovasi teknologi tinggi bergengsi Eropa, High Tech Campus Eindhoven, Belanda pada Selasa 24 Maret 2015.

Dalam acara Indonesia ICT Day di Silicon Valley-nya Eropa tersebut, 12 perusahaan Indonesia unjuk kebolehan. Teknologi enkripsi dan antisadap untuk perangkat mobile dan handy talkie yang didemokan Indoguardika Cipta Kreasi (ICK) misalnya, berhasil menarik perhatian para pebisnis, akademisi, dan kalangan pemerintah Belanda yang memenuhi auditorium kampus riset tersebut.

Ada pula teknologi online digital signature dari Bataviasoft, RFID assets dari Gulfware, smart payment system dari PME ITB, SAP Adds on dari Abyor, penetration testing dari Bandung Techno Park, cloud solution dari Qwords, LTE small cell dari Fusi, big data processing dari Solusi247, e-commerce dari Suitmedia, online learning dari Zenius serta virtual reality dari Sangkuriang.

Menurut Wakil Kepala Perwakilan KBRI Den Haag Ibnu W. Wahyutomo, pameran ini merupakan bagian dari roadshow promosi produksi IT Indonesia di dunia internasional. Sebelumnya kegiatan yang sama dilakukan di Hamburg, Jerman pada Jumat (14/3/2015), Brussel Belgia pada Senin (23/3/2015) dan menyusul di Helsinki Finlanda pada Kamis (26/3/2015).

“Delegasi Indonesia juga sempat menampilkan teknologi canggihnya di pameran IT terbesar dunia, CeBIT 2105 di Hannover Jerman,” kata Wahyu dalam email yang dikirimkan kepada Liputan6.com, Kamis (26/3/2015).
Teknologi IT anak bangsa berkualitas

Dijelaskan bahwa misi dagang berbasis teknologi ini terselenggara atas prakarsa Kementerian Perindustrian, Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kementerian Perdagangan, KBRI Brussel, KBRI Den Haag, KBRI Jerman, KJRI Hamburg, KBRI Finlandia, asosiasi Indoglobit dan Ikatan Ahli, dan Sarjana Indonesia (IASI) Jerman.

Sementara itu Ketua Umum Indoglobit, asosiasi perusahaan IT Indonesia untuk pasar internasional, Hari Tjahyono dalam keterangan persnya di Eindhoven, Rabu menyatakan, teknologi IT Indonesia berkualitas tinggi dan mampu bersaing di pasar global.

“Produk anak bangsa ini hanya kalah dalam urusan popularitas dan kemasan atau branding saja, sehingga kurang dikenal. Ketika pasar internasional melihat langsung melalui pameran dan roadshow seperti ini, banyak mitra dan calon klien yang tertarik,” kata Hari.

Menurut Hari, Indonesia terlambat masuk pasar global. Dicontohkan bahwa India yang dengan segala keterbatasannya berani masuk pasar global pada tahun 80an. Sekarang mereka telah menjadi pemain besar bersaing dengan China.

“Sementara perusahaan asal Indonesia baru mulai aktif masuk pasar global tahun 2011. Masih jauh hasilnya jika dibandingkan dengan India. Namun saat ini mulai menuai hasil dengan sejumlah proyek dan kerjasama dengan mitra-mitra di Eropa dan Timur Tengah,” ujar Hari.
Jutaan Dolar

Sementara itu, Atase Perindustrian KBRI Brussel Putu Judi Ardika menuturkan, sejumlah perjanjian kerjasama dan proyek dengan nilai total jutaan dolar telah berhasil diraih misi dagang Indonesia selama pameran dan roadshow IT kali ini.

Seperti perjanjian kerjasama teknologi enkripsi antisadap PT ICK dengan perusahaan mitra di Timur Tengah dan Eropa Barat, pen testing Bandung Techno Park dengan perusahan asal Amerika Serikat (AS), kerjasama off shore software PT Abyor dengan mitra Belanda, pengembangan produk LTE (Long Term Evolution) PT Fusi dan PME ITB dengan Prodrive Technology Belanda serta produk big data processing PT Solusi247 dengan perusahaan IRI asal AS.

“Kita dukung para pelaku usaha IT nasional untuk berkibar di pasar global. Kita dorong ekspor produk dan jasa IT karya anak bangsa ini ke pasar Eropa. Selain itu, digencarkan pula upaya pembangunan kemitraan pengembangan produk-produk teknologi tinggi,” kata Putu.

Menurut Putu, potensi Indonesia menjadi pelaku industri IT dunia sebenarnya sangat besar. Mengingat tersedianya modal SDM kreatif dan besarnya pasar Indonesia yang dapat digunakan sebagai basis pengembangan industri IT.

Ditambah lagi faktor revolusi industri yang digerakkan IT saat ini semakin membuka kesempatan bagi setiap pengembang produk dan jasa IT turut ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan pasar.

“Peluang tersebut akan lebih maksimal lagi bila ada dukungan berupa keberpihakan (affirmative action) penggunaan produksi dalam negeri dan tersedianya habitat industri IT yang mendukung kreatifitas,” pungkas Putu.

(edh/isk)