- Psikologi Arousal & Hook: Viralitas dimulai dengan pemicu emosi yang kuat (haru, lucu, penasaran) dan Curiosity Hook dalam 3 detik pertama untuk menghentikan jempol audiens.
- Strategi Konten Relatable & Tren: Bangun kedekatan melalui konten yang mewakili identitas audiens serta menunggangi tren dengan twist unik khas brand.
- User-Generated Content (UGC): Dorong audiens berpartisipasi aktif menyebarkan pesan brand melalui konten buatan mereka.
- Viralitas vs Kredibilitas: Tanpa kualitas dan kredibilitas, viralitas justru mempercepat hancurnya reputasi jika ekspektasi konsumen tidak terpenuhi.
- Pentingnya Domain .ID: Di tahun 2026, memiliki domain .id yang terverifikasi menjadi patokan kepercayaan bagi audiens yang datang dari momen viral di media sosial.
Pernah bingung bagaimana caranya meyakinkan target pasar kalau produkmu itu benar-benar oke? Media sosial dan website brandmu masih sepi, padahal kamu sudah bikin konten lucu sampai pakai iklan. Jika cara marketing biasa sudah tidak ampuh, mungkin ini saatnya kamu melirik strategi viral marketing.
Konsep viral marketing adalah kampanye pemasaran yang memang dirancang untuk memanfaatkan kekuatan distribusi organik atau word-of-mouth dalam waktu yang sangat singkat.
Jika kamu ingin mengeksplorasi teknik pemasaran viral, kamu wajib mempelajari strategi dan berbagai contoh viral marketing inspiratif dalam artikel ini sampai tuntas.
Viralitas bukan sekadar tentang mendapatkan jutaan views, melainkan tentang bagaimana menciptakan pesan yang “menular”. Sebagai marketer, Kamu harus memahami bahwa cara kerja viral marketing sangat bergantung pada pemicu psikologis yang menggerakkan audiens untuk menekan tombol share.
Kamu mungkin pernah menonton konten “Laundry Majapahit” di TikTok. Konten itu berhasil menaikkan kembali sebuah produk deterjen lewat konten kreatif yang disebarkan secara organik. Kamu tidak perlu meniru mentah-mentah bentuk konten ini karena setiap brand punya jalannya sendiri untuk menciptakan konten yang viral.
Berikut adalah panduan strategi mendalam untuk mengeksekusi konten yang impactful:
1. Gunakan Trigger Emosi (Psikologi Arousal)
Dalam dunia marketing, emosi yang memicu aksi disebut sebagai High-Arousal Emotion. Konten yang memicu rasa haru yang mendalam, rasa menghibur yang menggelitik, atau rasa penasaran yang besar jauh lebih mudah viral dibanding konten netral.
Contoh: Penjual jaket kulit, Yadi Mulyana, live berjualan di platform TikTok dengan gaya marah-marah menggunakan bahasa Sunda. Ini memicu emosi “hiburan yang unik” karena menawarkan konsep yang berbeda dari suasana jualan yang biasanya ramah dan hangat, sehingga audiens merasa wajib menyebarluaskannya.
2. Optimasi 3 Detik Pertama (Curiosity Hook)
Audiens digital memiliki rentang perhatian yang sangat pendek. Marketer harus mampu menghentikan jempol audiens (thumb-stopping content) dalam 3 detik pertama menggunakan curiosity hook.
Buka konten dengan pertanyaan, visual yang kontras, kisah yang memancing emosi, atau pernyataan yang berlawanan dengan opini umum (counter-intuitive).
Contoh: Eksperimen sebuah brand pakaian bergaya urban, Rucas.co, yang mengubah penampilan tukang parkir lansia menjadi seperti model high-fashion. Cerita transformasi ini menciptakan rasa penasaran yang kuat sejak detik pertama sehingga memancing engagement audiens.
3. Ikuti Tren, Baca Situasi (Ride the Trend Wave)
Menunggangi tren adalah cara paling ekonomis untuk mendapatkan jangkauan luas. Namun, best practice-nya adalah jangan sekadar meniru. Berikan twist atau sudut pandang yang sesuai dengan nilai brand-mu agar tidak terlihat seperti sekadar “ikut-ikutan”.
Penting diingat, hindari tren negatif yang bisa merusak reputasi jangka panjang. Pastikan kampanye tetap memiliki pesan yang tulus dan berkualitas.
4. Buat Konten yang Relatable
Konten akan sangat cepat tersebar jika audiens merasa konten tersebut “mewakili” identitas mereka. Fokuslah pada niche atau kelompok identitas tertentu agar tercipta rasa kepemilikan.
Contoh: Seorang sales properti Adrie Febriansyah, viral di TikTok dan Instagram karena selalu menyanyikan catchphrase “Gua tunjukin, rumah sudah jadi dan siap huni~” di setiap pembuka videonya. Ia menawarkan pendekatan lucu dan “gemas” dalam mempromosikan properti untuk menargetkan pasangan muda yang sedang mencari rumah pertama. Cara ini menyajikan sentuhan personal, jauh dari kesan iklan properti konvensional pada umumnya yang kaku dan berjarak.
5. Mendorong Partisipasi lewat User-Generated Content (UGC)
Buat audiensmu menjadi tenaga pemasar sukarela. Ciptakan loop partisipasi di Instagram atau platform lain yang memudahkan audiens membuat konten serupa.
Berikan insentif berupa apresiasi (seperti repost) atau kompetisi kreatif yang menantang audiens mengekspresikan diri mereka dengan produkmu.
Contoh: Brand produk nugget crispy, Kanzler, membagikan berbagai resep sederhana yang menggunakan produknya melalui media sosial. Kebanyakan resepnya mudah dibuat dan lekat dengan keseharian masyarakat lokal, seperti nugget mercon atau nugget geprek. Hal ini memancing banyak orang dari berbagai kalangan usia dan gender untuk membagikan kreasinya sebagai konten di media sosial.
6. Kolaborasi dengan Influencer
Gunakan influencer sebagai pemantik api pertama. Pilih kolaborator yang memiliki kredibilitas di mata target pasarmu.
Tugas mereka bukan sekadar posting, tapi memvalidasi pesan brand-mu agar terlihat lebih autentik.
7. Sesuaikan Konten dengan Platform (Native Content)
Jangan gunakan satu format video untuk semua tempat. Konten di YouTube biasanya lebih naratif dan panjang, sementara di TikTok harus lebih cepat dan snappy.
Memahami perilaku unik pengguna di tiap platform adalah kunci agar strategi ini memberikan manfaat viral marketing yang maksimal bagi brand-mu.
Bagi UMKM, strategi viral marketing dapat membantu efisiensi karena menekan budget distribusi iklan yang biasanya menguras kantong. Selain itu, melihat konten yang mendadak banjir likes dan shares tentu membanggakan.
Namun, menurut pakar pemasaran Hermawan Kartajaya, pemasaran viral akan menjadi percuma jika pada akhirnya tidak ada solusi nyata yang ditawarkan kepada konsumen.
Viralitas hanyalah sebuah “pintu masuk”. Jika kontenmu berhasil menarik ribuan orang ke profilmu, tapi mereka tidak menemukan produk yang berkualitas, maka yang terjadi adalah kekecewaan.
Inilah salah satu kelebihan dan kekurangan viral marketing: ia mempercepat segalanya, termasuk mempercepat hancurnya reputasi jika ekspektasi audiens tidak terpenuhi.
Kamu mungkin bisa memanfaatkan algoritma media sosial untuk menciptakan momen viral, tetapi tidak dapat melahirkan pelanggan setia dari sana. Customer loyal lebih percaya kredibilitas, bukan hanya kreativitas dan inovasi yang kamu tawarkan.
Satu hal yang sering dilupakan saat mengejar viralitas adalah mengamankan aset digital, yaitu domain. Domain resmi berfungsi sebagai “jangkar” kepercayaan audiens.
Memiliki domain juga tidak melulu soal website. Ia bisa digunakan untuk identitas link di bio, email profesional, dan cara domain forwarding lainnya.
Data internal Qwords per Oktober 2025 menunjukkan bahwa penggunaan domain lokal semakin krusial. Tercatat ada 3.535 pendaftaran baru untuk domain .id, dan angka renewal mencapai 15.077 (naik lebih dari 40% dari tahun sebelumnya). Ini membuktikan bahwa pelaku bisnis lokal semakin sadar akan pentingnya eksistensi digital yang stabil.
Dengan domain .id yang terverifikasi, kamu memberikan sinyal bahwa bisnismu adalah entitas legal dan terpercaya. Membangun identitas digital yang kokoh adalah investasi yang pas sebelum kontenmu meledak.
Sehebat apa pun strategi pemasaran yang kamu jalankan, semua itu akan sia-sia jika kamu tidak punya kredibilitas di mata pelanggan. Viralitas membawa orang datang, tetapi kualitas dan identitas resmilah yang membuat mereka bertahan.
Dapatkan domain .id di Qwords sekarang juga. Bangun fondasimu dari hari ini!
Referensi:

