Teknologi
  • 7 mins read

Apa Itu Deployment? Pengertian dan Proses Lengkap

magzin magzin

Pernahkah Sahabat Qwords mendengar istilah deployment yang biasa digunakan untuk membicarakan hal-hal teknis terkait suatu sistem atau program digital?

Nah, jika kamu pernah atau sering mendengarnya. Artikel kali ini tepat untuk kamu baca supaya pemahamanmu soal deployment semakin kuat dan aplikatif.

Yuk langsung kita bahas apa itu deployment, fungsi, hingga jenis-jenisnya berikut ini!

Pengertian Deployment

Secara umum, deployment adalah proses membuat suatu sistem atau aplikasi yang tersedia untuk digunakan di lingkungan yang sesuai, misalnya lingkungan produksi baik oleh pengguna akhir maupun sistem lain.

Dalam konteks perangkat lunak, istilah software deployment atau deployment aplikasi adalah proses ketika sebuah aplikasi dikemas, dikonfigurasi, diinstal, dan disebarkan ke sistem atau server target.

Secara mudah, proses deployment adalah bagian penting dalam siklus hidup software yang menghubungkan pengembangan dan lingkungan produksi.

Mengapa Deployment Itu Penting

Deployment yang dilakukan dengan baik akan memastikan bahwa aplikasi atau fitur baru dapat digunakan secara andal, cepat, dan aman oleh pengguna.

Sebaliknya, deployment yang buruk bisa menimbulkan downtime, bug di produksi, keluhan pengguna, dan gangguan bisnis. 

Oleh karena itu, memahami proses deployment adalah kunci agar tim pengembang dan operasi (DevOps) dapat bekerja dengan efisien dan minim risiko.

Tahap-Tahap Deployment

Setelah memahami konsep apa itu deployment, kamu harus tahu juga bagaimana tahap-tahap deployment yang akhirnya bisa memudahkan banyak orang untuk menggunakan sejumlah sistem maupun software.

Berikut ini adalah urutan umum tahap deployment yang kerap diadopsi atau digunakan.

1. Perencanaan

Tentukan terebih dahulu apa yang akan dideploy, siapa yang terlibat, risiko yang ada, dan lingkungan targetnya seperti apa.

2. Pengemasan (Packaging)

Aplikasi atau layanan dikemas dalam bentuk yang dapat dipindahkan atau di-deploy ke target. Jangan sampai kemasan malah mendistraksi fungsi utama dari software aplikasi, atau perangkat lunak yang ingin difungsikan.

3. Instalasi dan Konfigurasi

Instal aplikasi ke server atau target dan lakukan konfigurasi agar siap digunakan.

4. Pengujian dan Validasi

Pastikan aplikasi berjalan dengan benar di lingkungan target, termasuk uji performa, keamanan, dan integrasi.

5. Peluncuran (Release atau Deployment)

Aplikasi bisa mulai digunakan oleh pengguna atau sistem target.

6. Dukungan dan Pemeliharaan

Setelah deployment, diperlukan monitoring, support, rollback jika diperlukan, dan pemeliharaan agar software atau aplikasi bisa bertahan lama dan berjalan sesuai fungsinya.

Dengan memahami tiap tahap ini, kamu sebagai pengembang atau manajer proyek bisa mempersiapkan langkah‐langkah secara sistematis agar deployment berjalan lancar. 

Bahkan, jika deployment berhasil dan aplikasi atau software berjalan sesuai fungsinya, kamu bisa fokus pada hal-hal lain, seperti pemeliharaan atau pengembangan.

Jenis Deployment

Berikut lima pola deployment yang umum ditemui di organisasi digital saat ini:

1. On-Premises Deployment

Pola deployment pertama ini akan membuat aplikasi dijalankan di server fisik milik organisasimu sendiri. 

Kelebihannya, kamu bisa mengontrol penuh data dan lingkungan deployment. Kekurangannya, yaitu biaya tinggi dan memerlukan tim infrastruktur internal.

2. Cloud Deployment

Pada pola deployment jenis kedua ini, aplikasi dihost di platform cloud publik seperti Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure atau Google Cloud. Kelebihan pola deployment satu ini adalah sisi fleksibel dan mudah diskalakan, sehingga cocok bagi timmu yang ingin fokus pada pengembangan.

3. Container Deployment

Sementara pada pola ketiga, deployment akan membuat aplikasi dikemas ke dalam container, misalnya menggunakan Docker dan dapat dijalankan konsisten di berbagai lingkungan on-premises atau cloud.

Pola ini ideal untuk microservices dan adanya tuntutan perubahan lingkungan deployment.

4. Serverless Deployment

Pola keempat ini mendorong developer untuk fokus pada kode, tanpa mengelola server secara eksplisit.

Biayanya dihitung berdasarkan penggunaan aktual. Contohnya menggunakan layanan FaaS seperti AWS Lambda atau Google Cloud Functions untuk medium deployment.

5. Hybrid Deployment

Pola deployment yang terakhir adalah kombinasi antara dua atau lebih jenis di atas.

Misalnya, sebagian aplikasi tetap di on premises demi keamanan atau regulasi, sementara lainnya berada di cloud untuk fleksibilitas skala.

Strategi Deployment

Ternyata, menyalurkan perangkat lunak atau aplikasi pada pengguna atau penerima fungsinya memiliki beragam jenis dan strategi.

Namun, seringkali “jenis” dan “strategi” deployment disamakan, padahal keduanya berbeda fungsi. 

Jenis lebih mengarah pada “di mana aplikasinya dijalankan”, sedangkan strategi berbicara tentang “bagaimana versi baru diperkenalkan ke pengguna”.

Nah, berikut ini beberapa strategi deployment yang cukup populer untuk digunakan atau diterapkan.

1. Recreate (Big Bang)

Strategi deployment yang pertama bernama recreate atau big bang yang membuat aplikasi atau software versi lama dihentikan dan langsung diganti versi baru.

Kelebihan strategi deployment ini adalah cepat, tapi berisiko downtime besar jika ada masalah.

2. Rolling Deployment

Strategi deployment yang kedua bernama rolling deployment atau perangkat versi baru diterapkan secara bertahap ke sebagian mesin atau instance.

Layanan sebelumnya bisa tetap berjalan meski update layanan terbaru sedang berlangsung.

3. Blue Green Deployment

Strategi deployment berikutnya adalah blue green deloyment yang bisa menjalankan dua lingkungan produksi identik “blue” dan “green”. 

Setelah versi baru siap digunakan, trafik akan dialihkan ke lingkungan baru, sehingga pengaplikasian strategi ini akan berdampak pada kemudahan timmu untuk melakukan rollback.

4. Canary Deployment

Canary deployment adalah strategi deployment yang akan sangat membantumu untuk memperkenalkan versi terbaru ke kelompok kecil pengguna dulu.

Bila berjalan sistem atau software berjalan lancar, maka akan diperluas ke seluruh pengguna, sehingga mengurangi risiko perubahan besar secara tiba-tiba.

5. Shadow Deployment

Shadow deployment adalah strategi deployment yang memungkinkan versi baru dari software atau aplikasimu dijalankan “di belakang layar” tanpa perlu mengarahkan pengguna ke sana, hanya untuk menguji performa nyata sebelum full release.

6. Feature Toggle atau A/B Testing

Strategi deployment yang terakhir adalah feature toggle atay A/B testing yang bisa membantu fitur baru untuk bisa diaktifkan atau dimatikan lewat konfigurasi (feature flags). A/B testing juga memungkinkan uji dua versi aplikasi secara paralel untuk mendapatkan feedback pengguna.

Contoh Nyata Deployment

Untuk memperjelas penerapan deployment di dunia nyata, berikut beberapa skenario yang menggambarkan bagaimana deployment bekerja dan berfungsi secara nyata

  • Contoh pertama ada pada sebuah platform e-commerce yang menggunakan strategi blue green agar peluncuran fitur baru tidak mengganggu pengguna aktif.
  • Ada juga kondisi di mana sebuah startup SaaS memilih canary deployment untuk memastikan perubahan kecil tidak langsung berdampak pada keseluruhan basis pengguna.
  • Contoh nyata kondisi lainnya adalah sebuah tim IT di perusahaan besar yang menerapkan container deployment (Docker + Kubernetes) agar aplikasi bisa berjalan konsisten di berbagai divisi dan lingkungan.

Ada maksud atau makna dibalik kondisi yang dihasilkan dari sejumlah strategi dan jenis deployment yang akhirnya nanti akan kamu dan timmu pilih untuk diterapkan. 

Sebab, sejumlah jenis dan strategi deployment software atau aplikasi bisa memengaruhi sistem yang sedang kamu jalankan saat itu juga.

Jadi, bijak dan teliti dalam menerapkan jenis atau strategi deployment juga berdampak pada kepuasa pelanggan bahkan klienmu.

Tools yang Membantu Proses Deployment

Deployment yang efisien tidak hanya soal strategi, tapi juga alat yang membantu otomatisasi dan menjaga kualitas rilis. 

Berikut ini beberapa tools penting yang bisa kamu maksimalkan untuk membantumu menerapkan proses deployment.

  • Ansible:tools yang bisa menjadi alat otomasi konfigurasi server.
  • Jenkins: tools berbentuk platform pipeline CI/CD untuk build, test, dan deploy otomatis.
  • Docker dan Kubernetes: containerization dan orkestrasi yang memungkinkan aplikasi bisa berjalan konsisten di berbagai lingkungan.
  • Terraform: sebuah infrastruktur sebagai kode (IaC) yang memungkinkan lingkungan bisa didefinisikan dan dikelola seperti kode.
  • GitHub Actions: sebuah tools integrasi otomatisasi langsung dari repositori kode (CI/CD ringan).

Dengan memanfaatkan kombinasi strategi dan tools ini, tim kamu bisa mempercepat rilis fitur, mengurangi kesalahan manusia, dan menjaga stabilitas layanan.

Makin Paham dengan Deployment

Deployment adalah rangkaian proses strategis yang mencakup pemilihan tempat (jenis deployment) dan cara perilisan (strategi deployment) yang tepat untuk proyek kamu.

Dengan memahami pilihan yang ada, dan menggunakan tools otomatisasi yang sesuai, tim bisa meningkatkan kecepatan, kualitas, dan keamanan aplikasi yang dirilis ke pengguna.

Makin paham kan tentang apa itu deployment?

Zulfa Naurah Nadzifah

Zulfa is a content writer and copywriter who enjoys turning words into ideas that speak. She writes about SEO, branding, and all things digital. For her, writing is a way of talking to the world.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *