Security
  • 7 mins read

Pencurian Data Pribadi Lewat Aplikasi, Bagaimana Mencegahnya?

magzin magzin
Highlights
  • Pencurian data pribadi lewat aplikasi dapat berujung pada pengambilalihan akun keuangan, pemalsuan identitas, hingga penjualan data di Dark Web.
  • Waspadai metode Phishing, infeksi Malware melalui APK bajakan, serta serangan Man-In-The-Middle (MITM) di jaringan Wi-Fi publik.
  • Gunakan kombinasi password kuat dan Otentikasi Ganda (2FA/MFA) sebagai lapisan keamanan pertama.
  • Pilih layanan yang telah tersertifikasi ISO 27001 seperti Qwords untuk menjamin data dikelola dengan prosedur keamanan berlapis dan profesional.

Hidup di era digital menuntut kita waspada terhadap pencurian data pribadi lewat aplikasi. Meskipun mobile banking dan belanja online terasa praktis, ada risiko besar di mana data pribadi disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Kamu mungkin bertanya, “Kok bisa ya data pribadi bocor, padahal saya tidak pernah membagikannya?” Jawabannya terletak pada teknik pencurian data yang semakin canggih dan bahaya malware aplikasi yang sering tidak kita sadari.

Dalam ulasan kali ini, akan kita bahas pertanyaanmu itu, bagaimana pencurian data pribadi lewat aplikasi bisa terjadi, dan apa saja cara yang bisa dilakukan untuk mencegahnya!

Apa Itu Pencurian Data Pribadi Lewat Aplikasi?

Pencurian data pribadi lewat aplikasi terjadi ketika informasi sensitif yang kamu masukkan ke dalam aplikasi, misalnya nama lengkap, nomor ponsel, NIK, atau data finansial diambil tanpa izin oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Informasi itu bisa disalahgunakan untuk berbagai hal merugikan seperti penipuan, pembukaan rekening diam-diam, atau penjualan data di pasar gelap.

Dalam kasus pencurian data terbaru yang dilaporkan peneliti keamanan siber Jeremiah Fowler, ada kebocoran lebih dari 149 juta data login dan password yang terekspos di darkweb. Data ini datang dari platform yang bervariasi, mulai dari media sosial, akun Netflix,, hingga situs kencan. Lebih parah lagi, ada kredensial .gov dari negara tertentu di antara kebocoran data ini. Artinya, keamanan siber di tingkat negara pun masih menjadi PR besar.

Penyalahgunaan data pribadi itu bukan lagi sekadar masalah kecil, aktivitas ilegal merugikan itu bisa berujung pada kehilangan uang, identitas dipalsukan, atau akun-akun penting kamu diambil alih orang lain.

Teknik-Teknik Pencurian Data yang Wajib Kamu Tahu

Kalau kamu pikir peretas hanya mengandalkan cara-cara ala hacker level Hollywood, pikir ulang.

Saat ini teknik pencurian data bisa sangat sederhana dan memantik psikologismu sendiri untuk secara tidak sadar melakukannya.

Saat kamu menginstal apps atau mengisi form login, kamu pasti sering memberi izin akses ke data sensitif, seperti nama lengkap, nomor telepon, lokasi GPS, alamat email, atau bahkan informasi finansial.

Data itu bisa bocor dan disalahgunakan saat aplikasi atau pihak ketiga mengaksesnya tanpa kontrol yang kuat.

Nah, pencurian data lewat aplikasi biasanya terjadi karena tiga hal besar:

1. Phishing dan Social Engineering

Phishing adalah trik penipuan di mana pelaku membuat situs atau pesan palsu yang terlihat seperti layanan resmi, lalu memancing kamu memasukkan data login atau pribadi.

Serangan ini tak hanya dilancarkan lewat email saja, kini phising banyak juga dilakukan lewat SMS (smishing) dan bahkan notifikasi palsu dalam aplikasi.

Contohnya saja saat kamu mendapat SMS atau email mirip bank yang memintamu masuk lewat tautan palsu untuk “memperbarui data”. Tautan itu bisa langsung mencuri password atau OTP kamu.

2. Bahaya Malware Aplikasi

Malware adalah software berbahaya yang bisa menginfeksi perangkat saat kamu mengunduh aplikasi dari sumber yang tidak jelas, misalnya APK bajakan atau melalui situs download acak.

Begitu masuk, malware bisa mencuri password, nomor kartu, bahkan merekam apa yang kamu ketik.

Ada pula jenis malware yang disebut stealer malware yang dirancang khusus untuk mencuri informasi yang tersimpan di perangkat atau aplikasi.

Baru-baru ini, peneliti juga menemukan banking apps yang direkayasa ulang oleh peretas dikemas kembali dengan malicious code sehingga tetap terlihat normal, tapi diam-diam mencuri data pengguna.

3. Man In The Middle (MITM)

MITM ini terjadi ketika pelaku “menyadap” komunikasi antara kamu dan aplikasi, misalnya saat kamu pakai Wi-Fi umum tanpa enkripsi.

Pelaku bisa mencuri data yang seharusnya aman, sehingga yang terjadi data bisa dibaca bahkan sebelum sampai ke server.

Risiko Nyata dari Data Pribadi Bocor

Kalau data pribadimu sudah bocor, risiko yang kamu hadapi bukan sekadar notifikasi gangguan saja, tapi

1. Akun diambil alih

Hanya dengan login dan OTP yang berhasil dicuri, peretas bisa mengakses rekening atau kartu kreditmu. Uang dari rekening bisa dipindahkan tanpa izin karena pelaku sudah punya akses.

2. Identitas disalahgunakan

Pelaku dapat membuka akun baru atas nama kamu atau mengajukan pinjaman tanpa sepengetahuanmu. Data kamu bisa dipakai untuk membuka akun pinjaman online atau kredit tanpa sepengetahuanmu.

3. Data bocor ke Dark Web

Data yang bocor bisa tersebar di pasar gelap digital dan digunakan oleh banyak kriminal. Bocornya data pribadi bisa memicu stres, gangguan psikologis, dan risiko berulang jika data itu diperdagangkan di dark web.

Cara Efektif Mencegah Pencurian Data Pribadi Lewat Aplikasi

Meskipun ancamannya nyata, banyak langkah konkret yang bisa kamu lakukan mulai sekarang supaya terhindar dari risiko pencurian data.

1. Unduh Aplikasi Hanya dari Sumber Resmi

Pastikan kamu hanya memakai Google Play Store atau Apple App Store.

Sebab, aplikasi dari sumber tidak resmi sering kali membawa malware atau spyware.

2. Gunakan Password Kuat + Otentikasi Ganda (2FA / MFA)

Password yang kuat dengan beragam karakter itu wajib kamu miliki untuk mengamankan akun digitalmu.

Kamu bisa melakukan kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol yang tidak berhubungan dengan data umum seperti nama atau ulang tahun.

Password unik untuk tiap akun juga penting supaya saat salah satu akun bocor, akun lain tidak akan membuka akses ke akun-akun lainnya.

Jangan lupa, aktifkan juga verifikasi dua langkah (multi factor authentication) supaya meskipun password bocor, pelaku tetap tidak bisa masuk.

3. Waspadai Permintaan Izin Aplikasi

Kalau sebuah aplikasi yang tidak perlu akses lokasi atau kontak tiba-tiba meminta itu, jangan langsung setuju.

Batasi izin seminimal mungkin hanya untuk aplikasi yang benar-benar dibutuhkan saja.

4. Selalu Perbarui Sistem dan Aplikasi

Update bukan hanya soal fitur baru, tapi memperbaiki celah keamanan yang bisa dimanfaatkan malware atau peretas.

Mengabaikannya update sistem dan aplikasi secara berkala sama dengan membiarkan pintu belakang terbuka untuk peretas

5. Enkripsi Data dan SSL Certificate

Pastikan situs atau aplikasi yang kamu pakai menggunakan SSL Certificate yang ditandai dengan https:// di browser.

SSL akan memastikan data kamu dienkripsi saat dipindahkan dari perangkatmu ke server, jadi akun dan datamu tidak mudah disadap.

Peretas tidak bisa dengan mudah menyadap atau membaca isi data tersebut saat transit.

Upaya ini termasuk kunci penting dalam keamanan cyber modern.

Jadi, kalau kamu melihat https:// di awal alamat situs atau indikator gembok di browser, tanda itu menunjukkan SSL telah terpasang.

6. Hindari Wi-Fi Umum Tanpa Perlindungan

Wi-Fi publik bisa jadi jebakan, sebab Wi-Fi umum sering tidak terenkripsi dan bisa memberi peluang MITM atau jaringan palsu untuk mencuri data.

Pakai VPN kalau kamu terpaksa mengakses data sensitif di luar jaringan aman.

7. Backup dan Enkripsi Data

Data penting seperti foto, dokumen, dan arsip pribadi sebaiknya dienkripsi dan di-backup secara berkala, baik di cloud yang aman maupun di perangkat lokal.

8. Edukasi Diri Sendiri

Banyak serangan muncul dari human error, karena klik tautan yang salah, isi form yang muncul tiba-tiba, atau masuk ke situs yang tidak jelas.

Semakin sadar kamu terhadap tanda-tandanya kemungkinan terjerumus dalam skema pencurian data, semakin kecil peluang kamu jadi korban.

Jadi, tetap berhati-hati dan waspada saat melakukan aktivitas digital ya!

Risiko Aplikasi Pihak Ketiga dan Situs Download Random

Ada banyak layanan yang terlihat “keren” atau gratisan, misalnya situs download video pihak ketiga atau aplikasi random yang memberi akses ke fitur premium secara tidak resmi.

Sayangnya, sering kali situs-situs itu tidak mengikuti standar keamanan yang ketat sehingga mereka bisa

  • menyisipkan malware atau skrip pengambil data,
  • meminta terlalu banyak izin yang tidak perlu,
  • memancing kamu login dengan layanan lain di dalamnya.
  • atau langsung mencuri data tanpa kamu sadari.

Jadi, penting untuk kamu tetap kritis sebelum meng-install sesuatu yang terlalu bagus untuk jadi nyata (free premium features misalnya), karena mungkin memang mengandung bahaya.

Naikkan Standar Keamananmu

Sahabat Qwords, di dunia digital yang penuh risiko, data pribadi sudah menjadi aset yang harus dilindungi dengan standar keamanan tertinggi.

Itu sebabnya standar internasional seperti ISO 27001 jadi sangat penting bagi layanan online profesional yang nantinya kamu gunakan.

Standar ini memastikan perusahaan bisa terus menerapkan kebijakan, prosedur, audit, dan perlindungan berlapis untuk menjaga data kamu tetap aman.

Ditambah lagi, protokol enkripsi kuat seperti SSL Certificate membuat pertukaran data antar perangkat dan server jadi aman dari penyadapan.

Klik untuk Perlindungan Ekstra Website-mu!

Dengan kombinasi edukasi, kebiasaan digital sehat, dan teknologi keamanan mutakhir, kamu bisa menjaga data pribadimu tetap aman sehingga pengalaman menggunakan aplikasi tetap nyaman, dan bebas dari drama pencurian data.

Saatnya bersamai upaya meningkatkan standar keamanan data digitalmu bersama produk dan layanan dari Qwords yang sudah berstandar internasional ISO 27001 mulai sekarang!

Zulfa Naurah Nadzifah

Zulfa is a content writer and copywriter who enjoys turning words into ideas that speak. She writes about SEO, branding, and all things digital. For her, writing is a way of talking to the world.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *