Untuk Sahabat Qwords yang sudah membuat konten, pasang iklan, kerja sama dengan influencer atau KOL, tapi belum dapat engagement yang baik, pasti akan merasa lelah dan bosan.
Mungkin masalahnya bukan di kualitas konten, iklan, atau ifluencer dan KOL yang kamu pilih, tapi di corong pemasaran atau marketing funnel-nya.
Ada tiga marketing funnel yang harus kamu tahu jika ingin mendapatkan respon positif dari target kamu, yaitu TOFU, MOFU, dan BOFU.
Apa sih TOFU, MOFU, dan BOFU itu? Apa saja contoh dan penerapannya dari ketiga funnel tersebut? Ketahui jawabannya di ulasan berikut ini.
Apa Itu TOFU?
TOFU adalah singkatan dari Top of Funnel. Ini adalah sebuah tingkatan di mana target pasar kita masih belum tahu bahwa brand kita itu ada. Maka tugas kita adalah menyadarkan mereka kalau kita itu ada.
Jadi tujuan utama dari funnel ini adalah untuk meningkatkan awareness terlebih dahulu di kalangan calon konsumen.
Fortmat Konten TOFU
Untuk TOFU, kamu bisa pakai format berupa edukasi ringan, inspirasi, atau juga kuis ringan. Untuk lebih jelasnya seperti di bawah ini.
- Video pendek seperti Reels, Shorts, dan TikTok: memecah perhatian cepat di feed dengan format vertikal dan hook 3–5 detik.
- Blog post edukatif atau topical: menjawab pertanyaan seperti apa, kenapa, bagaimana.
- Sosial media posts (carousel, infografik): memudahkan share dan save dalam distribusi organik.
- Podcast atau guest talk: membangun otoritas dan mudah dikonsumsi saat multitasking.
Contoh penerapan TOFU dalam promosi:
- Brand Skincare: 5 Kebiasaan kecil yang bikin kulit gampang breakout.
- SaaS: Apa itu CRM? Panduan singkat untuk UMKM.
- Coffee Shop: Tren minuman kopi 2025 yang lagi hype.
Atau kalau kamu butuh contoh penerapan TOFU di berbagai media, bisa lihat daftar di bawah ini:
- Blog: “7 Mitos Seputar [Topik] yang Bikin Kamu Salah Langkah.”
- Video pendek: “Hook 3 detik + 1 tips praktis” (format 9:16).
- Infografik: “Roadmap pemula [Topik] 30 hari.”
- Kuis ringan: “Tipe [persona] kamu apa?” (hasil + saran awal).
- Podcast dan Guest talk: ngobrolin tren industri terbaru.
Jadi, pesannya TOFU itu lebih seperti “Keinginan atau Masalah + Solusi atau Cara Mencegah”.
Apa Itu MOFU?
MOFU atau Middle of Funnel adalah kondisi di mana target pasar sudah sadar dan tahu akan keberadaan brand kita. Namun mereka masih menilai-nilai dan membandingkan antara brand kita dengan brand lain.
Maka yang harus kita lakukan adalah menambah keyakinan atau trust mereka kepada kita dengan cara memberikan mereka bukti nyata berupa review produk, promo agar mereka mencoba sendiri, dan semisalnya.
Fortmat Konten MOFU
Pada MOFU, kamu bisa pakai format berupa konten seperti di bawah ini:
- E-book, guide, printables, worksheet, dan checklist: memberi solusi terstruktur yang bagus untuk lead capture.
- Webinar, live demo ringan, dan Q&A: menjawab keberatan real-time jadi bisa meningkatkan trust.
- Studi kasus dan komparasi produk: bukti sosial dan alasan rasional sehingga bisa membantu evaluasi.
- Email nurturing series: mengantar audiens dari masalah ke solusi secara bertahap.
Contoh penggunaan promo dalam funnel MOFU, seperti:
- Brand Skincare: Ingredient 101: BHA vs AHA vs Retinol, mana yang bagus untuk kulit berjerawat?.
- SaaS: Hitung potensi kenaikan omzet dari repeat order. Lihat demonya sesuai industri kamu.
- Coffee Shop: Panduan memilih grind size untuk cold brew di rumah. Ambil kode diskon 15% untuk beans dan botol cold brew.
Atau kalau kamu butuh contoh penerapan MOFU di berbagai media, bisa lihat daftar di bawah ini:
- E-book dan Workbook: Blueprint untuk UMKM dan template Excel serta Notion.
- Printables: planner mingguan, dan formula kalkulator ROI sederhana (PDF).
- Webinar atau Workshop: 45–60 menit.
- Studi kasus interaktif: halaman dengan grafik KPI pre atau post.
- Email mini-course 5 hari: tiap hari 1 langkah dan tugas kecil.
- Perbandingan jujur: tabel fitur vs kompetitor dan use-case siapa cocok.
Dari sini terlihat, alur dari MOFU lebih kepada “Kelebihan Produk+Bukti Profesionalitas” atau “Kelebihan Produk+Promo”.
Apa Itu BOFU
Bottom of Funnel atau BOFU adalah tahap terakhir dalam funnel marketing. Ini adalah saat di mana target pasar sudah sadar dan merasakan bukti kalau produk kita terjamin kualitasnya.
Selanjutnya hanya perlu dorongan terakhir agar mereka mengambil keputusan. Ini bisa berupa diskon terbatas, atau produk limited edition.
Fortmat Konten MOFU
Kalau sudah sampai di tahap BOFU, kamu bisa pakai format berupa konten seperti di bawah ini:
- Sample, trial, dan demo produk: bukti rasa atau manfaat yang sudah terbukti.
- Landing page konversi: halaman berisi klarifikasi teknis tanpa adanya friksi.
- Testimoni, video review, dan UGC: validasi sosial atau testimoni.
- Promo terbatas, bundling, dan bonus onboarding: ciptakan urgensi dan nilai ekstra.
Contoh penerapan BOFU adalah:
- Brand Skincare: Anti-Breakout Starter Kit. Cleanser pH-balanced+serum BHA ringan dan moisturizer barrier dan diskon 30% untuk 300 pembeli minggu ini.
- Saas: Trial 14 hari+Onboarding 1-on-1 gratis dan dibantu import data CSV. Potongan 25% di 3 Bulan pertama, hanya untuk pendaftar dalam 72 jam.
- Coffee Shop: Cold Brew Starter Pack. Botol 1L+beans 200 dan voucher 20% untuk 10 pembeli pertama.
Atau kalau kamu butuh contoh penerapan BOFU di berbagai media, bisa lihat daftar di bawah ini:
- Free trial, sample kit, dan demo terjadwal: checklist apa yang harus diuji.
- Landing page konversi: CTA jelas, opsi bayar lengkap, dan ada kalkulator harga.
- Testimoni video 30–60 detik: fokus hasil, angka.
- Promo terbatas: bundling starter dan bonus onboarding serta garansi uang kembali.
- Cart recovery, live chat, dan WA: jawab keberatan dan komplain harga, serta kompatibilitasnya.
Dengan contoh di atas, dapat kamu pahami kalau alurnya BOFU itu seperti “Kelebihan Produk+Urgency”.
Sampai sini bisa kamu lihat kalau funnel itu memanfaatkan strategi yang tidak memaksa, tapi lebih kepada memelihara minat dari awal sampai akhirnya konversi.
Cara Mengukur Keberhasilan Tiap Funnel
Ada cara tersendiri yang disebut metrik untuk melihat apakah setiap funnel bekerja dengan maksimal atau tidak. Berikut penjelasannya.
TOFU
Untuk tahapan TOFU kamu bisa menggunakan beberapa metriks berikut sebagai tolak ukurnya:
- Impressions atau Reach.
- Organic CTR dari SERP dan Sosmed.
- Time on page Average view duration.
- Engagement rate berupa like, comment, share, dan save.
- New users atau followers growth.
MOFU
Jika kamu sudah mulai masuk ke tahap MOFU, maka beda lagi metriks yang dipakai. Berikut meriks untuk MOFU:
- Leads dan MQL seperti submit, download, dan registrasi.
- Lead-to-event rate dari kehadiran webinar, open dan reply email nurturing.
- Content depth metrics seperti scroll depth, pages atau session, completion rate dari webinar dan e-course.
- CTR dari CTA di konten MOFU untuk fitur demo atau trial.
- Cost per lead (CPL)
BOFU
Untuk tahapan BOFU, maka metriknya pun sudah mengarah ke konversi. Berikut beberapa metrik yang bisa kamu pakai untuk tahapan BOFU:
- Conversion Rate dari trial ke paid atau add-to-cart ke checkout.
- Revenue per lead (RPL) dan Average Order Value (AOV).
- Cart abandonment rate.
- Time-to-close dan payback period.
- Refund atau return dan NPS pasca-pembelian.
Kamu bisa tracking tiap tahap dengan Google Analytics atau Google Search Console, form tracking, dan juga dashboard sederhana yang dibuat sendiri.
Setelah tracking, lihat dimana kekurangannya dan disarankan untuk fokus pada bottleneck paling besar terlebih dahulu.
Seperti banyak traffic TOFU tetapi sedikit yang jadi leads, maka perkuat CTA dan lead magnetnya.
Kesalahan Umum dalam Funnel Marketing
Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh mereka yang baru terjun ke dunia marketing baik online atau offline. Berikut penjelasannya agar kamu bisa menghindarinya.
1. Jualan Agresif di TOFU
Seperti penjelasan di atas kalau TOFU adalah mereka yang belum sadar tentang adanya produk atau brand kamu. Maka jangan ajak mereka langsung tekan button “Beli Sekarang”.
2. Kurang Bukti di MOFU
Hal yang paling dibutuhkan oleh target pasar di MOFU adalah bukti nyata kalau brand atau produk kamu itu terpercaya. Jadi fokuskan untuk memperbanyak dan menyebarkan bukti yang kredibel.
3. Checkout Ribet di BOFU
Ini bisa karena alur yang panjang, form yang terlalu banyak, atau sering dialihkan ke website iklan. Permudah alur dan proses CTA agar pelanggan kamu tidak kabur.
4. Tidak Ada Follow-Up
Leads yang masuk bisa jadi tidak berharga dalam hitungan hari. Maka sebaiknya kita follow-up mereka dan merawat minatnya dengan baik.
Melalui strategi dan pendekatan tiap funnel TOFU, MOFU, dan BOFU di atas kamu bisa memandu konsumen dan mengarahkan mereka untuk lebih mengenal produk, membangun kepercayaan dan kedekatan sampai ke tahap pembelian.
Dengan begitu, kamu bisa mendapat konsumen yang baru sekaligus menjaga loyalitas konsumen lama agar tetap setia di produkmu.
Semakin Paham Soal TOFU, MOFU, dan BOFU
Dengan menerapkan semua funnel marketing seperti TOFU, MOFU, dan BOFU di atas, maka kamu akan lebih mudah dalam menerapkan strategi dan menyeleksi konsumen.
Dampaknya, kemungkinan untuk konversi akan lebih besar dan penyebaran konten atau promo akan lebih terarah.
Jika Sahabat Qwords penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam soal tahapan marketing, maka kamu bisa membaca tentang customer jouney map.
Dengan strategi funnel yang solid, bisnis dapat menarik perhatian calon konsumen baru sekaligus menjaga loyalitas pelanggan lama.
Jika kamu tertarik untuk bahasan lebih lanjut soal marketing, atau bagaimana cara memahami konsumen, bisa berikan saran di kolom komentar.