Cloud Hosting
  • 10 mins read

Apa Itu IaaS (Infrastructure as a Service)? Pengertian dan Manfaatnya

Pernahkah Sahabat Qwords berpikir bagaimana bisa membangun aplikasi, mengelola banyak data, hingga mengelola situs web untuk bisnis tanpa harus membeli server fisik, menyewa ruang data centre, atau memikirkan pemeliharaan hardware berkala? 

Jawabannya ternyata bisa dengan IaaS! Apa itu IaaS?

IaaS adalah singkatan dari Infrastructure as a Service, yaitu layanan komputasi awan yang menyediakan infrastruktur IT sesuai permintaan penggunanya. IaaS menjadi penting untuk bisnis di era digital saat ini karena dapat membantu menghemat biaya dan memberikan fleksibilitas untuk pengelolaan infrastruktur IT.

Yuk kenalan lebih jauh dengan IaaS melalui ulasan berikut ini!

Pengertian Infrastructure as a Service (IaaS)

IaaS atau Infrastructure as a Service atau IaaS adalah model layanan komputasi awan atau cloud computing yang memungkinkan pengguna mendapatkan sumber daya infrastruktur TI dasar secara fleksibel dan on demand melalui internet.

Menurut National Institute of Standards and Technology (NIST), IaaS adalah kemampuan yang diberikan kepada konsumen untuk pemrosesan, penyimpanan, jaringan, dan sumber daya komputasi fundamental lainnya di mana konsumen mampu menyebarkan dan menjalankan perangkat lunak secara mandiri dan manasuka, yang dapat mencakup sistem operasi dan aplikasi.

Dengan memanfaatkan IaaS, kamu tidak perlu membeli dan mengelola server fisik sendiri atau megeluarkan banyak uang untuk membangun pusat data sendiri.

Menyewa sumber daya seperti server virtual, storage, jaringan, dan sistem virtualisasi dari penyedia cloud semacam ini akan membantumu memangkas pengeluaran tim.

Secara ringkas, IaaS akan memberikan pondasi infrastruktur pada pengguna untuk bebas menginstal sistem operasi, aplikasi, dan middleware. 

Sementara vendor IaaS bertanggung jawab atas hardware, virtualisasi, dan jaringan dasar, sehingga kamu bisa menggunakan sistem dan membayar sesuai sumber daya yang digunakan dan dibutuhkan saja.

Contoh IaaS

Berikut ini beberapa contoh layanan IaaS yang umum ada di industri dan bisa menambah gambaran untuk pemahamanmu tentang model cloud computing satu ini:

  • Amazon Web Services (AWS) EC2, S3, VPC yang merupakan infrastruktur komputasi dan storage.
  • Microsoft Azure Virtual Machines, dengan Azure Storage yang termasuk model IaaS.
  • IBM Cloud IaaS yang menyediakan VM, jaringan, dan storage on-demand.

Sejumlah contoh di atas menunjukkan bahwa IaaS digunakan untuk menyediakan layanan infrastruktur yang digunakan untuk berbagai keperluan, seperti hosting aplikasi web, big data analytics, backup, dan disaster recovery yang cenderung lebih fleksibel.

Apa Bedanya IaaS, PaaS dan SaaS?

Sahabat Qwords, penting untukmu memahami bagaimana IaaS ini bekerja dan apa yang membuatnya berbeda dari dua model layanan lainnya dalam cloud computing, yaitu PaaS (Platform as a Service) dan SaaS (Software as a Service).

Berikut ini daftar perbedaan IaaS dibanding PaaS dan SaaS.

  • IaaS: Pengguna mendapatkan infrastruktur seperti server, storage, dan jaringan. Pengguna juga bertanggung jawab atas OS, middleware, dan aplikasinya.
  • PaaS: Model ini memfasilitasi penyedia untuk menyediakan infrastruktur + platform (OS, runtime, middleware), sehingga pengguna hanya fokus pada aplikasi dan data.
  • SaaS: Penyedia mengelola semuanya, mulai dari aplikasi siap pakai dan pengguna hanya atau tinggal menggunakan aplikasi tersebut.

Dengan demikian, seluruh perbedaan itu bisa memudahkan kamu untuk memilih model mana yang paling cocok untuk kebutuhan IT kamu, baik dari segi kontrol, tanggung jawab, maupun biaya.

Manfaat IaaS

Model IaaS menawarkan banyak manfaat bagi organisasi dan perusahaan yang sedang kamu jalankan, termasuk startup maupun enterprise besar. 

Berikut ini sejumlah manfaat utama yang bisa juga kamu dapatkan jika kamu menggunakan model cloud computing jenis ini.

1. Skalabilitas cepat dan fleksibel

Kamu bisa menambah atau mengurangi kapasitas sesuai kebutuhan, tanpa investasi hardware besar-besaran.

2. Pengurangan biaya modal dan operasional

Infrastruktur yang memungkinkan pengguna sepertimu untuk tidak perlu membeli sendiri. Model pay as you go semacam ini juga memungkinkan perusahaan hanya membayar yang digunakan oleh para pengguna.

3. Kecepatan peluncuran layanan

Infrastruktur yang bisa diprovisikan dengan cepat juga ideal untuk pengembangan, pengujian, dan peluncuran aplikasi.

4. Ketahanan dan pemulihan bencana (disaster recovery)

IaaS sering dilengkapi dengan kemampuan untuk backup atau restore dan mendukung data dengan beban yang membesar secara tiba-tiba.

5. Fokus pada inovasi

Infrastruktur yang sepenuhnya ditangani oleh penyedia, membuat tim internalmu bisa fokus pada pengembangan aplikasi dan solusi bisnis, bukan perawatan hardware.

Cara Kerja IaaS

Secara operasional, IaaS bekerja dengan cara berikut:

  • Penyedia IaaS membuat dan mengelola infrastruktur fisik di data center, mulai dari server, storage, dan jaringan.
  • Pengguna melalui portal web atau API memprovisikan sumber daya, misalnya VM, storage berkapasitas tertentu, hingga virtual network.
  • Pengguna menginstal OS, aplikasi, mengatur konfigurasi sesuai kebutuhan. Sementara penyedia tetap mengelola lapisan di bawahnya (hardware, virtualisasi).
  • Biaya dihitung berdasarkan penggunaan, misalnya jam VM, gigabyte storage, atau bandwidth.

Model Penerapan IAAS

Ada tiga model penerapan IAAS yang kamu harus tahu sebelum menggunakan atau menerapkannya, yaitu Publik, Private, Hybrid Cloud. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Public Cloud

Model penerapan IAAS yang pertama adalah public cloud.

Pada model cloud publik, infrastruktur seperti server, storage, hingga jaringan yang dimiliki dan dioperasikan oleh penyedia layanan pihak ketiga, lalu disewakan ke banyak penyewa melalui internet.

Karakteristiknya mencakup skala yang sangat fleksibel on-demand, biaya awal yang rendah, dan level kontrol yang lebih kecil karena infrastruktur dikelola oleh penyedia. 

Contoh penggunaannya, yaitu sebuah startup yang ingin cepat memperluas layanan web tanpa harus investasi besar di infrastruktur fisik.

Atau layanan email atau aplikasi SaaS (Software as a-Service) umum yang digunakan oleh banyak pengguna.

Kelebihannya model public cloud, yaitu biaya yang relatif rendah, skalabilitas tinggi, dan pemeliharaannya dikelola oleh penyedia.

Sementara kekurangannya, kontrol lebih sedikit terhadap infrastruktur, potensi risiko keamanan atau kepatuhan yang lebih besar karena lingkungan multi-tenant.

2. Private Cloud

Model private cloud menyediakan infrastruktur cloud yang dikhususkan hanya untuk satu organisasi saja. 

Bisa berada di data centre milik organisasi (on premises) atau di-host oleh pihak ketiga, tapi dedicated untuk satu organisasi.

Karakteristiknya, yaitu kontrol penuh, keamanan dan kustomisasi lebih besar, tetapi biaya dan pengelolaan juga lebih tinggi.

Contoh penggunaanya di antaranya adalah sebuah Bank atau institusi keuangan yang harus memenuhi regulasi ketat dan menyimpan data sensitif secara eksklusif.

Atau Organisasi pemerintah yang menginginkan isolasi penuh dari lingkungan umum.

Kelebihan dari model satu ini, yaitu kontrol maksimal, isolasi tinggi (lebih aman untuk data sensitif), dan bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan.

Kekurangannya ada pada investasi awal yang akan lebih besar, skalabilitas yang terbatas dibanding public cloud, serta memerlukan tim TI internal yang kuat. 

3. Hybrid Cloud

Sementara hybrid cloud adalah kombinasi dari public cloud dan private cloud yang memungkinkan organisasi bisa menggunakan kedua model tersebut secara terintegrasi untuk memanfaatkan keunggulan masing-masing.

Dalam praktiknya, beban kerja yang sangat kritis atau data sensitif bisa dijalankan di private cloud, sementara beban kerja yang lebih fleksibel atau dengan lonjakan trafik dipindahkan ke public cloud. 

Contoh penggunaan ada pada perusahaan e-commerce yang menyimpan data pelanggan sensitif di private cloud, namun menangani kampanye marketing atau trafik tinggi musiman melalui public cloud.

Atau organisasi yang ingin menjaga kedaulatan data (data residency) di negara sendiri, tetapi tetap ingin bisa memanfaatkan layanan global untuk backup atau disaster recovery.

Kelebihan model ini adalah fleksibilitasnya yang tinggi, keseimbangan antara kontrol dan biaya, dan bisa menyesuaikan beban kerja dengan kebutuhan tim.

Kekurangannya ada pada arsitektur dan manajemen yang lebih kompleks, karena harus mengintegrasikan dua lingkungan, potensi biaya dan kompleksitas tambahan.

Tips Memilih Penyedia IaaS

Saat kamu memilih penyedia layanan Infrastructure-as-a-Service (IaaS), ada sejumlah kriteria penting yang harus diperhatikan agar infrastruktur yang disewa benar-benar bisa mendukung bisnismu dengan baik. 

Nah, berikut ini uraian beberapa kriteria utama untuk memilih penyedia IaaS yang sesuai dengan kebutuhanmu.

1. SLA (Service Level Agreement)

  • Periksa secara detail apa yang dijamin oleh penyedia, misalnya bagaimana ketersediaan (uptime) dalam persentase (99,9 % atau lebih tinggi).
  • Pastikan SLA mencantumkan respon dukungan, waktu penyelesaian (resolution time), dan penalti jika janji tidak tercapai.
  • Perhatikan juga batasan-batasan yang diberikan, apakah yang termasuk “downtime” yang dihitung, bagaimana maintenance rutin bisa ditangani, atau apakah pemeliharaan yang dijadwalkan dianggap downtime.

Kamu bisa minta bukti historis dari penyedia dalam 6-12 bulan terakhir. Apakah mereka memenuhi SLA mereka atau tidak? Jika ada penghargaan (credits) untuk downtime, apakah jelas mekanismenya?

2. Lokasi Data Centre atau Infrastruktur

  • Pilih penyedia yang memiliki data centre dekat lokasi pengguna utamau atau di wilayah yang relevan agar latency rendah dan performa optimal. 
  • Pastikan juga terkait regulasi dan kedaulatan datanya (data residency), mulai dari di mana datamu nanti disimpan, apakah berada di negara dengan regulasi yang bisa kamu penuhi? 
  • Cek redundansi dan ketersediaan data centre-nya, apakah penyedia memiliki beberapa zona, backup geo-redundant, hingga pemulihan bencana (disaster recovery)?

Tips praktisnya, jika kamu menjalankan bisnis di Indonesia atau regional Asia Tenggara, cek apakah penyedia memiliki pusat data di lokasi tersebut. Paling tidak, ada jaringan yang baik ke wilayahmu untuk menghindari latensi atau isu regulasi.

3. Keamanan

  • Pastikan penyedia mematuhi standar keamanan dan kepatuhan industri, misalnya ISO 27001, SOC 2, PCI DSS, atau regulasi lokal di Indonesia.
  • Periksa enkripsi datanya pada transit dan rest yang akan menunjukkan data bergerak dan data yang disimpan, serta kontrol akses (IAM, multi factor authentication) yang ditawarkan penyedia.
  • Tinjau juga model tanggung jawab bersamanya (shared responsibility model). Mana yang akan menjadi tanggung jawab penyedia dan bagian mana yang akan jadi tanggungjawab pengguna.

Kamu bisa menanyakan apakah pengguna sekaligus pelanggan bisa mendapatkan audit atau laporan keamanan dari penyedia. Tak hanya itu, tanyakan juga verifikasi prosedur backup, recovery, dan pemulihan jika terjadi gangguan atau pelanggaran pada layanan yang kamu pakai.

4. Dukungan Lokal dan Ekosistem

  • Soal dukungan lokal dan ekosistem, pastikan penyedia memiliki layanan dukungan teknis yang responsif, idealnya dengan staf atau agent yang berbahasa Indonesia atau sesuai zona waktumu. Agar ketika ada masalah kamu bisa cepat mendapat solusi, penanganan, atau setidaknya bisa segera berkomunikasi. 
  • Verifikasi apakah penyedia menawarkan layanan tambahan seperti migrasi (on boarding), pemantauan, hingga konsultasi arsitektur yang akan sangat penting jika nantinya kamu belum punya tim TI yang besar.
  • Cek juga integrasi dan kompatibilitasnya, apakah penyedia mendukung API, alat otomasi, hybrid atau multi cloud jika nantinya kamu punya strategi tersebut.

Tips praktisnya, pilihlah penyedia yang punya rekam jejak baik dalam menjalankan layanannya di Indonesia atau Asia Pasifik. Hal itu bisa memudahkan support lokal, pemahaman regulasi setempat, dan konektivitas yang lebih baik ketika nanti kamu menggunakan layanan mereka di lokasi tempat kamu menjalankan bisnis.

Kapan Perlu Memanfaatkan IaaS?

IaaS cocok untuk berbagai skenario atau kondisi, misalnya:

  • Perusahaan yang ingin migrasi dari on premise ke cloud tanpa membangun ulang semua infrastructure.
  • Startup atau tim pengembangan yang membutuhkan lingkungan pengujian atau produksi yang cepat tersedia.
  • Aplikasi dengan beban kerja yang fluktuatif, misalnya e-commerce yang mengalami lonjakan di musim promo, analitik big data, atau layanan yang perlu skalabilitas tinggi.
  • Organisasi yang ingin mengoptimalkan biaya IT dan meningkatkan agility dalam operasional mereka.

Hal Penting yang Perlu Diperhatikan dalam Menggunakan Model IaaS

Meskipun banyak manfaatnya, penggunaan IaaS juga memiliki beberapa tantangan yang harus kamu sesuaikan dengan kebutuhanmu dan timmu.

Berikut ini tantangan dan hal yang perlu kamu perhatikan sebelum menggunakan IaaS:

  • Pengguna masih bertanggung jawab terhadap keamanan OS, aplikasi, data, sebab penyedia hanya mengurus infrastruktur dasar.
  • Jika tidak dikelola dengan baik, biaya bisa membengkak karena skalabilitas yang tak terkendali.
  • Ketergantungan pada koneksi internet dan keandalan data center penyedia.
  • Migrasi aplikasi legacy ke IaaS kadang menghadapi (kendala) kompleksitas kompatibilitas dan perubahan arsitektur.

Sudah Siap untuk Menerapkan IaaS dalam Bisnismu?

Model Infrastructure as a Service atau IaaS adalah fondasi infrastruktur cloud yang menyediakan sumber daya seperti server, storage, jaringan dengan cara sewa on demand melalui internet. 

Dengan memahami bahwa IaaS bukan hanya sekadar “hosting”, tapi model yang memungkinkan fleksibilitas, efisiensi biaya, dan kecepatan peluncuran, kamu bisa memanfaatkannya dalam strategi TI dan bisnis kamu.

Bandingkan juga dengan PaaS dan SaaS untuk memilih solusi yang paling sesuai untuk kebutuhan bisnismu, sehingga kamu bisa memfokuskan energi ke pengembangan inovasi dan solusi, bukan ke perawatan hardware.

Tertarik untuk memanfaatkan keunggulan model IaaS sebagai alat bantu menjalankan bisnismu? Kamu bisa membaca artikel seputar virtual server untuk cari tahu lebih lanjut sebelum memutuskan menggunakan layaan IaaS.

Coba share pendapatmu di kolom komentar yuk!


Bangun website dengan sekali klik pakai Cloud Hosting Indonesia dari Qwords, Dapatkan Diskon 50% dan AI Builder secara gratis!.

Zulfa Naurah Nadzifah

Zulfa is a content writer and copywriter who enjoys turning words into ideas that speak. She writes about SEO, branding, and all things digital. For her, writing is a way of talking to the world.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *