Website
  • 6 mins read

Memahami Whitespace pada Desain Website, Apa Fungsinya?

magzin magzin

Kalau Sahabat Qwords pernah membuka sebuah website dan langsung merasa nyaman, mudah membaca isinya, serta fokus pada hal-hal penting, bisa jadi itu karena penggunaan whitespace yang tepat.

Tapi, jika kamu belum faham apa itu whitespace maka artikel ini akan memberikan jawabannya.

Apa Itu Whitespace?

Whitespace, atau ruang kosong atau juga negative space, adalah area kosong di antara elemen-elemen desain pada halaman website.

Seperti yang elementor.com katakan, meskipun disebut white (putih), whitespace tidak harus benar-benar berwarna putih, tapi yang penting adalah tidak ada konten atau elemen visual yang mengisi area tersebut.

Whitespace bisa Sahabat Qwords temukan juga di mana saja, mulai dari jarak antara paragraf, ruang di sekitar gambar, sampai margin di sisi halaman. Bahkan jarak antara huruf dan baris pada teks juga termasuk whitespace.

Berdasarkan wix.com, untuk whitespace biasanya bertampat di tiga tempat:

  • Margin lebar di pinggir halaman
  • Jarak antar blok teks dan antar huruf yang dalam dunia tipografi, ini disebut kerning
  • Ruang kosong di dalam atau sekitar gambar

Fungsi Whitespace

Banyak yang mengira ruang kosong hanya membuang-buang tempat. Padahal, justru sebaliknya, whitespace punya banyak fungsi penting yang bisa meningkatkan kualitas dan kenyamanan sebuah website.

1. Membuat Teks Lebih Mudah Dibaca

Coba Sahabat Qwords bayangkan saat membuka sebuah halaman web dengan teks yang terlalu rapat, huruf-hurut saling berdempetan, dan hampir tidak ada ruang untuk “bernapas”, itu akan membuat kita tidak nyaman.

Maka dengan whitespace yang cukup, teks akan terlihat lebih lega dan enak dibaca serta jarak antar paragraf dan spasi antar baris yang ideal, itu semua akan membantu mata pengguna membaca tanpa merasa lelah.

2. Mengatur Konten dan Meningkatkan Fokus

Whitespace juga sangat membantu dalam mengatur tata letak konten. Kalau semua elemen ditaruh terlalu berdekatan, pengguna akan sulit memahami informasi mana yang penting dan mana yang pelengkap.

Dengan adanya ruang kosong, akan memberi “panggung” bagi elemen penting seperti judul, gambar utama, atau tombol Call-to-Action (CTA).

Dengan begitu, perhatian pengguna bisa diarahkan dengan mudah ke hal-hal yang benar-benar kamu ingin mereka lihat atau klik.

Contohnya bisa Sahabat Qwords lihat di website seperti Apple. Mereka menggunakan sedikit teks dan gambar, tapi justru itu membuat produk mereka terlihat sangat mencolok dan premium.

3. Memberikan Kesan Elegan

Jika Sahabat Qwords mengunjungi situs web dari brand-brand mewah seperti Dior atau Vogue. Pasti tampilan mereka sering kali sangat simpel tidak banyak elemen visual, tapi tetap terlihat mewah dan eksklusif.

Ini semua karena efek dari penggunaan whitespace yang tepat. Ruang kosong memberi nuansa elegan dan terorganisir.

4. Membantu Navigasi dan Interaksi

Whitespace juga berperan besar dalam pengalaman pengguna (user experience). Dengan adanya ruang kosong yang cukup, pengguna bisa lebih mudah memahami struktur website dan melakukan interaksi, seperti mengisi formulir, mencari menu, atau membaca informasi produk.

Misalnya, saat Sahabat Qwords menaruh banyak menu navigasi di header, memberikan jarak yang pas antar link akan membuatnya terlihat rapi dan mudah di-klik.

5. Meningkatkan Konversi

Ini yang paling menarik, whitespace ternyata bisa berdampak langsung pada konversi.

Ketika sebuah tombol CTA dikelilingi oleh ruang kosong yang cukup, maka elemen itu akan terlihat lebih menonjol. Ini meningkatkan kemungkinan pengguna akan mengkliknya.

Website seperti Lull atau Flywheel bisa jadi contoh. Mereka memanfaatkan ruang kosong di sekitar tombol atau blok informasi penting, sehingga pengguna bisa lebih fokus dalam mengambil keputusan.

Jenis-Jenis Whitespace

Sebelum Sahabat Qwords mulai whitespace, mari kenali dulu jenis-jenis whitespace.

Secara umum whitespace bisa kita bagi menjadi dua kelompok, yaitu mikro dan makro lalu pasif dan aktif:

1. Mikro dan Makro Whitespace

  • Mikro: Ruang kecil seperti spasi antar huruf, kata, atau baris. Ini penting untuk keterbacaan teks.
  • Makro: Ruang besar seperti margin, jarak antar blok konten, atau area kosong di sekitar gambar. Ini berguna untuk struktur dan layout.

2. Pasif dan Aktif

  • Pasif: Whitespace yang terjadi secara alami, seperti spasi dalam tipografi.
  • Aktif: Whitespace yang sengaja ditambahkan untuk menciptakan fokus atau alur visual tertentu. Misalnya, ruang kosong sebelum CTA atau antara dua bagian berbeda dalam halaman.

Contoh Whitespace

Sekarang kita masuk ke contoh whitespace agar Sahabat Qwords bisa mendapat sebuah gambaran dan referensi ketika ingin menerapkan whitespace.

1. Logo  Pittsburgh Zoo

whitespace_1

Jika Sahabat Qwords melihat sekilas logo dari Pittsburgh Zoo di atas, akan terlihat itu adalah sebuah pohon dan ada burung yang terbang di atasnya.

Tapi kalau kita lihat lebih dalam maka akan tergambar wajah gorila dan singa disana, serta ikan-ikan yang sedang melompat di bawahnya.

Ini contoh penggunaan whitespace yang kreatif dan menarik di mata orang-orang dalam sebuah desain visual.

2. Hamalan Home Florian Schulz

Ini adalah tampilan halaman home dari website florian schulz, bisa dilihat disini ruang kosong berwarna putih keabu-abuan sengaja dikosongkan agar pengunjung bisa langsung fokus ke gambar-gambar di bawahnya.

3. Halaman Searche Course Udemy

Contoh lain adalah halaman belanja kursus milik udemy. Pada website tersebut, udemy menggunakan warna yang dominan putih agar tidak terlalu membagi fokus pengunjung.

Selain itu tulisan yang tebal dan jumlah harga yang jelas juga sangat membantu pengunjung dalam memilih kursus apa yang cocok untuk mereka.

Cara Membuat Whitespace

Setelah memahami fungsi, jenis, contoh tentang whitespace, maka saatnya Sahabat Qwords masuk ke bahasan cara membuat whitespace.

1. Tentukan Prioritas Elemen

Langkah pertama adalah menentukan elemen mana yang menjadi prioritas untuk ditampilkan. Contohnya seperti judul, gambar utama, tombol CTA (Call-to-Action), atau informasi penting lainnya.

Dengan menempatkan elemen prioritas di ruang yang cukup untuk bernapas, hal ini bisa membuat pengunjung fokus pada apa yang benar-benar penting.

2. Kelola Visual Hierarchy dengan Whitespace

Dalam desain web, visual hierarchy adalah urutan perhatian mata pengunjung saat melihat halaman. Tanpa whitespace yang cukup, layout bisa terasa padat dan membingungkan.

Dengan mengatur jarak antar elemen, Sahabat Qwords bisa membantu pengguna untuk lebih mudah memahami struktur halaman seperti mana yang harus dilihat dulu, mana yang penting, dan ke mana mereka harus melangkah berikutnya.

3. Pastikan Margin yang Cukup

Margin yang terlalu sempit bisa membuat tampilan terasa sesak dan menyulitkan pengguna untuk menyerap informasi.

Sebaliknya, margin yang cukup memberikan kesan lega dan profesional. Ini juga meningkatkan estetika secara keseluruhan serta mempercepat proses membaca dan memahami konten.

4. Optimalkan Whitespace untuk Tampilan Mobile

Pengalaman pengguna di perangkat mobile itu berbeda dengan desktop. Mobile yang punya ruang terbatas membuat pengaturan whitespace menjadi lebih penting dari sebelumnya.

Misalnya, paragraf yang nyaman di layar besar bisa terlihat terlalu panjang di layar kecil.

Dalam masalah ini, Sahabat Qwords bisa menggunakan font yang sedikit lebih besar, tambah jarak antar paragraf, dan atur ulang elemen dengan mempertimbangkan kenyamanan pengguna mobile.

Sahabat Qwords juga bisa bereksperimen dengan whitespace agar tampilan tetap rapi dan mudah terakses di berbagai ukuran layar.

Pada akhirnya whitespace bukan sekadar ruang kosong yang bisa diabaikan. Justru, itu adalah elemen penting dalam desain website modern.

Share:
Almer Ulul Al Bab

Almer is an experienced content writer with a strong understanding of servers, websites, SEO, email systems, and related technologies.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *